Meriwayatkan Jarak dan Rembulan yang Terserak

“Meriwayatkan Jarak dan Rembulan yang Terserak” adalah Jurnal fotografis yang menggunakan pendekatan puitis dalam mendokumentasi kepingan momen personal dalam hidup Aji Susanto Anom. Karya ini melakukan eksplorasi pada lanskap jarak yang memisahkan antara Aji Susanto Anom dan istrinya pada beberapa bulan terakhir. Kehadiran jarak yang memisahkan merupakan hal asing bagi mereka yang tidak pernah terpisahkan dalam ruang keintiman selama ini. Keheningan jarak dan perasaan rindu kepada seseorang menghadirkan kehampaan dan kekosongan hidup.

Spesifikasi:
200 Signed Edition
56 Pages
42 Photograph
182 mm x 257 mm
Presentasi singkat buku

Ulasan terkait publikasi:

  1. Ulasan pada Laman Buku Foto Indonesia
  2. Ulasan pada Laman Sokong Publish
  3. Ulasan oleh Maulana Randa
  4. Publikasi pada Laman HTRGNC

Buku Foto Indonesia: Ruang Ambivalensi yang Personal dan Universal

Artikel dimuat pada Buku:

Kelola Seni #3
RUANG SENI/RUANG IMAJI

Editor:
Prof. Dr. I Wayan Dana, M. Hum.
Dr. Citra Aryandari, MA.

Penerbit:
– Nyala – Arti Bumi Intaran Yogyakarta
– Prodi S-1 Tata Kelola Seni FSR ISI Yogyakarta

Buku _Ruang Seni, Ruang Imaji_ menyajikan 20 artikel dalam 320 halaman. Di dalamnya termuat 4 subtema tentang ruang: 1) Place and Space; 2) Ruang Imaji; 3) Ruang Nostalgi, dan 4) Ruang Virtual.

Artikel-artikel dalam buku ini berasal dari sejumlah penulis Indonesia dan Malaysia (dari beberapa perguruan tinggi). Buku ini disusun untuk mengabadikan dan menyosialisasikan pengalaman, kajian-kajian, amatan akan banyaknya ruang seni rupa, pertunjukan dan media rekam di Indonesia serta perubahan yang mengikutinya. Tentu ranah galeri, museum, art space hingga panggung seni tradisi dan media sosial menjadi bahasan menarik di dalamnya.

Termasuk perubahan konsep ruang fisik ke virtual-digital juga menjadi pembahasan. Kehadiran buku ini hingga di tangan para pembaca, diharapkan dapat menjadi lilin penerang, pencerah, maupun sebagai pengantar di dalam kegelapan pengetahuan mengenai ruang seni/ruang imaji yang selama ini kurang intens diteliti. Di sisi lain, juga dapat menambah cakrawala keilmuan dan penajaman pemikiran kritis membaca ulang tentang keberadaan ruang seni menjadi semakin kaya dan beragam di bumi Nusantara ini.

Informasi lebih lanjut: Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta

NARASI LIRIS FOTOGRAFI JURNALISTIK PADA MASA PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS PROYEK FOTOGRAFI “STILL LIVES” OLEH THE NEW YORK TIMES

2020 is the year when the world is faced with a health crisis, namely the Covid-19 pandemic or also known as the Corona Virus. All aspects of life are affected by this crisis, the joints of humanity are faced with limitations. The mass media are intensively reporting various incidents regarding the Covid-19 pandemic. The stories are often accompanied by journalistic photos. One of the functions of photojournalism is to strengthen the story of what the media wants to convey. Journalistic photos during this pandemic usually feature scenes from medical activities, government policies and large narratives that are cold on empathetic human relations. However, different from most photojournalism in most mass media, The New York Times publishes “Still Lives” photography projects that are done by its photographers. The project presents a different narrative from this time of the pandemic. The “Still Lives” photography project is important because it presents journalistic photos that tell a domestic narrative that is close to the sides of universal humanity, namely the stories of the photographers’ homes and families. This study aims to describe and interpret the “Still Lives” photography project as an alternative in creating a different narrative from photojournalism during the pandemic. This study used a descriptive qualitative research method based on phenomenology with Roland Barthes’ main theory of semiotics and supported by journalistic photography theory and representation theory. The research results obtained a complete explanation and meaning of the “Still Lives” Project from The New York Times. The project according to the theory of photo journalistic is photo story based on personal experiences. From the analysis through the theory of semiotics from Roland Barthes and representation theory successfully obtained a result that basically projects “Still Lives” can be understood as a representation of the universal experience and feeling by mankind. Project “Still Lives” provides the representation of covid-19 pandemic through the mass media journalistic that show an alternative offer to journalistic practice to use lyrical narratives and personal experience in the story and more empathy in the mass publication of pandemic covid-19.

DOI: 

https://doi.org/10.31598/bahasarupa.v4i2.714

Keywords: 

Photo Journalism, Lyrical Narrative, Covid-19 Pandemic, The New York Times, Representation

DOWNLOAD FULL PDF TEXT

Diterbitkan pada Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Bahasa Rupa April 2021

Proyek Fotografi STILL LIVES

Lengger Lanang

Lengger Lanang © Aji Susanto Anom

Lengger Lanang merupakan project fotografi yang saya kerjakan pada tahun 2018 sampai tahun 2019. Waktu itu saya memang tinggal di Bumi Banyumas, tepatnya di Purwokerto. Saya bertemu dengan Lengger Lanang pada sebuah gelaran Kendalisada Art festival, dimana dalam salah satu rangkaian acaranya adalah pentas Lengger Lanang dan ditutup oleh mas Didik Ninik Thowok juga pada saat itu. Disitu saya juga sempat menyaksikan salah satu panggung terakhir dari Maestro Lengger Lanang Mbok Dariyah. Salam takzim untuk almarhumah. Dalam pentas itu saya mengalami keterpikatan dalam seketika yang memantik rasa penasaran untuk mengerti dan memahami fenomena ini. Saya melihat penari Lengger Lanang dan mengalami rasa keterpesonaan terhadap kecantikan bak rembulan dari para penarinya. Beberapa saat kemudian saya baru tau bahwa penari-penari tersebut lelaki tulen yang bagi saya pada saat momen sebelumnya tak ubahnya seorang wanita yang sangat memikat. Setelah itu saya mencari literasi referensi mengenai tarian lengger lanang, sampai kemudian bertemu dengan kawan-kawan Lengger Lanang Langgeng Sari dan Mas Rianto.

Banyak versi sahibul hikayat yang bercerita mengenai asal mula istilah ataupun tarian lengger. Lengger berasal dari kata Leng dan Jengger, Leng bahasa jawa untuk lubang mewakili perempuan dan Ngger dari kata jengger bahasa jawa untuk mewakili laki-laki. Saya memaknai kata lengger dari asal katanya tersebut menjadi Lengger adalah peleburan antara perempuan dan laki-laki. Peleburan antara perempuan dan laki-laki dalam banyak sosio kultural merupakan symbol dari keselarasan kehidupan ataupun mewakili kesuburan. Banyak cerita yang mengatakan bahwa tarian lengger ini berasal dari masyarakat agraris sebagai sebuah ritus atau seremonial dalam sebuah upacara kesuburan. Leng sendiri atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah lubang, merupakan sebuah symbol dari awal kehidupan, entah itu lubang hitam penciptaan (blackhole) atau lubang hitam kelahiran. Lengger merupakan tarian sakral yang ditarikan untuk sebagai tanda kesuburan dan kelahiran.

Lengger Lanang © Aji Susanto Anom

Dalam project ini saya memotret beberapa pertunjukkan dari Lengger Lanang Langgeng Sari dan juga pertunjukkan dari Mas Rianto. Sebenarnya dalam project ini fokus saya adalah memperlihatkan proses transformasi yang terjadi pada saat sebelum seorang penari lengger naik ke atas panggung. Sehingga kawan-kawan bisa melihat porsi preparation mereka sangat dominan dalam project foto saya ini. Proses transformasi ini melibatkan kesadaran atas tubuh dimana seorang penari lengger menyadari bahwa dalam tubuhnya berdiam dua identitas yang bisa di on dan off kan sesuai dengan kebutuhan ritus hidupnya. Adanya tubuh maskulin dan tubuh feminis dalam satu diri. Sementara itu ada juga yang menceritakan bahwa proses transformasi itu juga melibatkan kesadaran magis, dimana dipercaya ada peran indhang atau spiritual deitis yaitu wangsit berwujud ruh yang berdiam dalam diri si penari muncul ke permukaan saat dia bertransformasi menjadi penari lengger. Menurut cerita kawan-kawan Lengger Lanang Langgeng Sari, kepemilikan indhang dalam kelompok mereka memiliki satu cerita unik, anggota kelompok mereka yang paling muda Sigit, itu malah memiliki indhang yang paling tua.

Sebagai sebuah seni yang lahir dari rakyat, tarian lengger tidak memiliki pakem yang khusus dan rapi, sifatnya lebih ekspresif dan melibatkan partisipasi aktif dalam pertunjukannya. Atau seringkali disebut dengan istilah saweran. Saweran sendiri merupakan perkembangan budaya yang menurut saya sedikit mengubah nilai sakral dari tarian itu sendiri menjadi sebuah pertunjukkan yang sifatnya profan atau kefanaan.

Lengger Lanang © Aji Susanto Anom

Ketika saya berdiskusi dengan mas Rianto, ada suatu pemahaman bersama bagi kami bahwa lengger sebagai bentuk itu saat ini adalah lelaki yang berdandan sebagai penari perempuan, namun mas rianto juga bercerita dia pernah menari lengger tapi tidak memerlukan dandanan sebagai penari perempuan, karena bagi mas Rianto, tubuh dalam diri penari yang sudah sadar itu sudah cukup untuk mewakili atau fokus pada tubuh feminis. Hal itu sebenarnya tumbuh seiring berjalannya waktu, bagaimana seorang penari fokus pada identitas dirinya dan menjadikan tarian sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi secara vertikal dan kembali pada fitrahnya sebagai ritus kesuburan atau wujud syukur atas keberhasilan panen kepada sang pencipta. Muncul istilah nyawiji bagi seorang penari lengger yang sudah sadar akan meleburnya tubuh yang ada dalam tubuh itu sendiri atas kesadaran kosmik ke atas, sang pencipta. Tubuh lengger adalah tubuh yang uncoded tidak terkodekan dengan batas gender-gender yang berlaku dalam kultural sosial masyarakat. Tubuh lengger adalah sebuah medium spiritual bagi penarinya untuk nyawiji dengan yang di atas, secara vertikal.

EPISODE 39 – LENGGER LANANG DAN CERITA-CERITA OBSKUR Aji Susanto Anom, M.Sn (Dosen Fotografi)

Horror Vacui Kurasional

(Kritik Jurnalistik Sistem Kurasional laman Sidewalkers.Asia)
Ditulis: 8 Juni 2015 oleh Aji Susanto Anom

Gambar 1. halaman depan sidewakers.asia.

Malam ini yogya mati lampu selama kurang lebih 5 jam, kehilangan listrik ternyata cukup membingungkan, teringat kata seorang pengajar, perkembangan utama seni dan kebudayaan manusia primitif didasari oleh suatu perasaan ketakutan akan sepi akan kehampaan, horror vacui. Perasaan ini saya rasakan sore sampai malam ini, atau saya saja yang penakut, entahlah, untung listrik sudah menyala. Dalam sepinya kota ini pikiran saya berkelana, mencari sesuatu untuk tulisan yang akan saya tulis untuk tugas kritik jurnalistik mata kuliah kritik seni. Untungnya, selama mati lampu ini saya masih diberi kesempatan untuk berselancar melalui smartphone saya untuk mengisi waktu luang dan secara tidak sengaja mampir di salah satu portal galeri street photography indonesia, Sidewalkers.Asia. Sambil menikmati temaramnya kota dan nikmatnya teh hangat, saya bertamasya melihat foto-foto terbaru hasil kurasional situs ini. Ada perasaan senang, excited, melihat beberapa foto namun juga timbul beberapa kegelisahan-kegelisahan yang renyah dan mendesak saya untuk kemudian menuliskannya.

Diawal kemunculannya Sidewalkers.Asia, portal ini memberikan perayaan tersendiri bagi saya seorang penggemar karya-karya street photography dan juga pelakunya yang mengalami horror vacui karena tidak adanya portal yang solid, sistematis dan secara konsisten menjadi ruang terbuka melalui media online untuk berbagi serta menikmati karya street photography dan mencari referensi untuk menambah wawasan visual saya sebagai pelakunya. Senang dan Bahagia karena pada akhirnya street photography Indonesia memiliki rumah yang aktif lagi dan tempat yang nyaman bagi kepulangan karya-karya yang telah dihasilkan oleh para pelakunya.

Malam ini setelah saya berselancar dalam galerinya, kegelisahan tiba-tiba muncul, kemudian saya coba untuk bertanya dan “memuncratkan” beberapa kegelisahan tersebut. Tulisan ini nantinya mungkin bisa jadi bahan untuk kita gelisahkan bersama dan syukur-syukur jika bisa menstimulus satu refleksi lebih. Kegelisahan pertama yang paling mengganggu menurut saya adalah banyaknya foto-foto yang lolos kurasi dengan kesamaan representasi subyek dari sebuah ide visual, yang membedakan mungkin hanya variasi partikular subyeknya. Misalnya, jukstaposisi benda mati dan manusia, atau alam dan visual artifisial, dll. Pada sebagian kasus hal ini bisa dikompromikan apabila menunjukkan suatu kreativitas atau konteks yang berbeda, tapi selama belum bisa menunjukkannya, buat apa foto-foto ini diloloskan lagi? Apakah para kurator tidak percaya dengan kreativitas street photographer indonesia sehingga meloloskan foto-foto ini?.

Gambar 2. kesamaan subyek, ide visual yang mengulang.

Kemudian kegelisahan kedua adalah kompromi foto-foto dengan kelemahan hal-hal teknis tetapi kuat di moment-moment puncak. Foto-foto one of a kind, decisive moment, image ala sauvette bisa berkompromi dengan hal teknis apabila moment itu merepresentasikan suatu event atau lingkup kejadian yang sangat penting dalam konteks pendokumentasiannya, beberapa kasus dalam foto-foto yang lolos adalah foto ini lemah dari hal teknis (komposisi, exposure, dll) tapi moment-moment puncaknya menurut saya bisa terulang dengan eksekusi yang lebih rapi, kenapa foto-foto ini harus diloloskan? Apakah para kurator tidak percaya bahwa street photographer indonesia bisa mendapatkan moment itu lagi dengan eksekusi yang lebih matang? Toh foto-foto dalam galeri sidewalkers.asia saya lihat sebagian besar diambil dalam lingkup kehidupan sehari-hari perkotaan, yang terus terulang, meloloskan foto seperti ini hanya menjadikan street photographer abai dalam hal-hal teknis mendasar.