(Kritik Jurnalistik Sistem Kurasional laman Sidewalkers.Asia)
Ditulis: 8 Juni 2015 oleh Aji Susanto Anom

Malam ini yogya mati lampu selama kurang lebih 5 jam, kehilangan listrik ternyata cukup membingungkan, teringat kata seorang pengajar, perkembangan utama seni dan kebudayaan manusia primitif didasari oleh suatu perasaan ketakutan akan sepi akan kehampaan, horror vacui. Perasaan ini saya rasakan sore sampai malam ini, atau saya saja yang penakut, entahlah, untung listrik sudah menyala. Dalam sepinya kota ini pikiran saya berkelana, mencari sesuatu untuk tulisan yang akan saya tulis untuk tugas kritik jurnalistik mata kuliah kritik seni. Untungnya, selama mati lampu ini saya masih diberi kesempatan untuk berselancar melalui smartphone saya untuk mengisi waktu luang dan secara tidak sengaja mampir di salah satu portal galeri street photography indonesia, Sidewalkers.Asia. Sambil menikmati temaramnya kota dan nikmatnya teh hangat, saya bertamasya melihat foto-foto terbaru hasil kurasional situs ini. Ada perasaan senang, excited, melihat beberapa foto namun juga timbul beberapa kegelisahan-kegelisahan yang renyah dan mendesak saya untuk kemudian menuliskannya.
Diawal kemunculannya Sidewalkers.Asia, portal ini memberikan perayaan tersendiri bagi saya seorang penggemar karya-karya street photography dan juga pelakunya yang mengalami horror vacui karena tidak adanya portal yang solid, sistematis dan secara konsisten menjadi ruang terbuka melalui media online untuk berbagi serta menikmati karya street photography dan mencari referensi untuk menambah wawasan visual saya sebagai pelakunya. Senang dan Bahagia karena pada akhirnya street photography Indonesia memiliki rumah yang aktif lagi dan tempat yang nyaman bagi kepulangan karya-karya yang telah dihasilkan oleh para pelakunya.
Malam ini setelah saya berselancar dalam galerinya, kegelisahan tiba-tiba muncul, kemudian saya coba untuk bertanya dan “memuncratkan” beberapa kegelisahan tersebut. Tulisan ini nantinya mungkin bisa jadi bahan untuk kita gelisahkan bersama dan syukur-syukur jika bisa menstimulus satu refleksi lebih. Kegelisahan pertama yang paling mengganggu menurut saya adalah banyaknya foto-foto yang lolos kurasi dengan kesamaan representasi subyek dari sebuah ide visual, yang membedakan mungkin hanya variasi partikular subyeknya. Misalnya, jukstaposisi benda mati dan manusia, atau alam dan visual artifisial, dll. Pada sebagian kasus hal ini bisa dikompromikan apabila menunjukkan suatu kreativitas atau konteks yang berbeda, tapi selama belum bisa menunjukkannya, buat apa foto-foto ini diloloskan lagi? Apakah para kurator tidak percaya dengan kreativitas street photographer indonesia sehingga meloloskan foto-foto ini?.

Kemudian kegelisahan kedua adalah kompromi foto-foto dengan kelemahan hal-hal teknis tetapi kuat di moment-moment puncak. Foto-foto one of a kind, decisive moment, image ala sauvette bisa berkompromi dengan hal teknis apabila moment itu merepresentasikan suatu event atau lingkup kejadian yang sangat penting dalam konteks pendokumentasiannya, beberapa kasus dalam foto-foto yang lolos adalah foto ini lemah dari hal teknis (komposisi, exposure, dll) tapi moment-moment puncaknya menurut saya bisa terulang dengan eksekusi yang lebih rapi, kenapa foto-foto ini harus diloloskan? Apakah para kurator tidak percaya bahwa street photographer indonesia bisa mendapatkan moment itu lagi dengan eksekusi yang lebih matang? Toh foto-foto dalam galeri sidewalkers.asia saya lihat sebagian besar diambil dalam lingkup kehidupan sehari-hari perkotaan, yang terus terulang, meloloskan foto seperti ini hanya menjadikan street photographer abai dalam hal-hal teknis mendasar.