Lengger Lanang


Lengger Lanang © Aji Susanto Anom

Lengger Lanang merupakan project fotografi yang saya kerjakan pada tahun 2018 sampai tahun 2019. Waktu itu saya memang tinggal di Bumi Banyumas, tepatnya di Purwokerto. Saya bertemu dengan Lengger Lanang pada sebuah gelaran Kendalisada Art festival, dimana dalam salah satu rangkaian acaranya adalah pentas Lengger Lanang dan ditutup oleh mas Didik Ninik Thowok juga pada saat itu. Disitu saya juga sempat menyaksikan salah satu panggung terakhir dari Maestro Lengger Lanang Mbok Dariyah. Salam takzim untuk almarhumah. Dalam pentas itu saya mengalami keterpikatan dalam seketika yang memantik rasa penasaran untuk mengerti dan memahami fenomena ini. Saya melihat penari Lengger Lanang dan mengalami rasa keterpesonaan terhadap kecantikan bak rembulan dari para penarinya. Beberapa saat kemudian saya baru tau bahwa penari-penari tersebut lelaki tulen yang bagi saya pada saat momen sebelumnya tak ubahnya seorang wanita yang sangat memikat. Setelah itu saya mencari literasi referensi mengenai tarian lengger lanang, sampai kemudian bertemu dengan kawan-kawan Lengger Lanang Langgeng Sari dan Mas Rianto.

Banyak versi sahibul hikayat yang bercerita mengenai asal mula istilah ataupun tarian lengger. Lengger berasal dari kata Leng dan Jengger, Leng bahasa jawa untuk lubang mewakili perempuan dan Ngger dari kata jengger bahasa jawa untuk mewakili laki-laki. Saya memaknai kata lengger dari asal katanya tersebut menjadi Lengger adalah peleburan antara perempuan dan laki-laki. Peleburan antara perempuan dan laki-laki dalam banyak sosio kultural merupakan symbol dari keselarasan kehidupan ataupun mewakili kesuburan. Banyak cerita yang mengatakan bahwa tarian lengger ini berasal dari masyarakat agraris sebagai sebuah ritus atau seremonial dalam sebuah upacara kesuburan. Leng sendiri atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah lubang, merupakan sebuah symbol dari awal kehidupan, entah itu lubang hitam penciptaan (blackhole) atau lubang hitam kelahiran. Lengger merupakan tarian sakral yang ditarikan untuk sebagai tanda kesuburan dan kelahiran.

Lengger Lanang © Aji Susanto Anom

Dalam project ini saya memotret beberapa pertunjukkan dari Lengger Lanang Langgeng Sari dan juga pertunjukkan dari Mas Rianto. Sebenarnya dalam project ini fokus saya adalah memperlihatkan proses transformasi yang terjadi pada saat sebelum seorang penari lengger naik ke atas panggung. Sehingga kawan-kawan bisa melihat porsi preparation mereka sangat dominan dalam project foto saya ini. Proses transformasi ini melibatkan kesadaran atas tubuh dimana seorang penari lengger menyadari bahwa dalam tubuhnya berdiam dua identitas yang bisa di on dan off kan sesuai dengan kebutuhan ritus hidupnya. Adanya tubuh maskulin dan tubuh feminis dalam satu diri. Sementara itu ada juga yang menceritakan bahwa proses transformasi itu juga melibatkan kesadaran magis, dimana dipercaya ada peran indhang atau spiritual deitis yaitu wangsit berwujud ruh yang berdiam dalam diri si penari muncul ke permukaan saat dia bertransformasi menjadi penari lengger. Menurut cerita kawan-kawan Lengger Lanang Langgeng Sari, kepemilikan indhang dalam kelompok mereka memiliki satu cerita unik, anggota kelompok mereka yang paling muda Sigit, itu malah memiliki indhang yang paling tua.

Sebagai sebuah seni yang lahir dari rakyat, tarian lengger tidak memiliki pakem yang khusus dan rapi, sifatnya lebih ekspresif dan melibatkan partisipasi aktif dalam pertunjukannya. Atau seringkali disebut dengan istilah saweran. Saweran sendiri merupakan perkembangan budaya yang menurut saya sedikit mengubah nilai sakral dari tarian itu sendiri menjadi sebuah pertunjukkan yang sifatnya profan atau kefanaan.

Lengger Lanang © Aji Susanto Anom

Ketika saya berdiskusi dengan mas Rianto, ada suatu pemahaman bersama bagi kami bahwa lengger sebagai bentuk itu saat ini adalah lelaki yang berdandan sebagai penari perempuan, namun mas rianto juga bercerita dia pernah menari lengger tapi tidak memerlukan dandanan sebagai penari perempuan, karena bagi mas Rianto, tubuh dalam diri penari yang sudah sadar itu sudah cukup untuk mewakili atau fokus pada tubuh feminis. Hal itu sebenarnya tumbuh seiring berjalannya waktu, bagaimana seorang penari fokus pada identitas dirinya dan menjadikan tarian sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi secara vertikal dan kembali pada fitrahnya sebagai ritus kesuburan atau wujud syukur atas keberhasilan panen kepada sang pencipta. Muncul istilah nyawiji bagi seorang penari lengger yang sudah sadar akan meleburnya tubuh yang ada dalam tubuh itu sendiri atas kesadaran kosmik ke atas, sang pencipta. Tubuh lengger adalah tubuh yang uncoded tidak terkodekan dengan batas gender-gender yang berlaku dalam kultural sosial masyarakat. Tubuh lengger adalah sebuah medium spiritual bagi penarinya untuk nyawiji dengan yang di atas, secara vertikal.

EPISODE 39 – LENGGER LANANG DAN CERITA-CERITA OBSKUR Aji Susanto Anom, M.Sn (Dosen Fotografi)